Entry 27 - Virtual Family, sosok keluarga yang dicari*

December 7, 2005

Penulis: eijeisan
URL: http://www.eijeisan.blogdrive.com/

Pada dasarnya manusia merupakan makhluk dengan kemampuan fisik yang paling lemah. Terlebih lagi jika anda membandingkannya dengan ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain. Namun begitu tidak dapat disangkal pula bahwa manusia merupakan sosok yang sangat kreatif. Fakta telah membuktikan bahwa manusia masih bisa `survive` hingga saat ini. Segala kekurangan dan kelemahan yang dimiliki tidak lantas membuatnya punah oleh seleksi alam. Tapi sebaliknya, keadaan fisik dan lingkungan yang seringkali kurang menguntungkan tadi malah menjadikannya sebagai organisator sekaligus inovator terbaik yang pernah ada.

Perkembangan peradaban manusia dewasa ini telah mengkondisikan setiap orang untuk hidup dalam organisasi-organisasi besar bernama negara. Dan apabila kita bersedia merunutnya sampai ke detail, akan kita temukan satuan sosial terkecil yang bernama keluarga. Tradisi berkeluarga sudah berlangsung lama sekali. Tidak mengherankan jika banyak orang yang akan berani menyimpulkan dengan tegas perihal ketidakmampuannya hidup tanpa keluarga. Anda boleh menyebutnya sebagai sebuah kebutuhan. Atau lebih tepatnya lagi kebutuhan yang dipelajari manusia entah sejak kapan. Saking lamanya sampai-sampai manusia tidak dapat melepaskan diri darinya. Bukankah manusia memang selalu begitu?`

Sejak kecil kita memang sudah diajarkan untuk selalu membutuhkan keluarga. Dari hubungan keluarga tersebut akan kita dapatkan sosialisasi norma-norma, pembagian tugas orangtua-anak, nilai-nlai keagamaan, atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga dan ketidakadilan gender. Faktanya keluarga sudah dikonstruksi sedemikian rupa hingga menjadi bangunan sosial yang kokoh. Dan manakala ada yang tidak mematuhi alias keluar dari pakem, maka dia harus bersiap-siap mendapatkan predikat sebagai pembangkang, gelandangan atau bahkan anak haram. Tapi ini bukan berarti bahwa kehidupan keluarga sudah menjadi harga mati dan diterima semua pihak. Ketidakpuasan pastilah ada, terlebih bagi manusia si makhluk kreatif.

Kenyataan bahwa keluarga tidak memuaskan semua pihak ternyata menjadikan manusia mencari atau bahkan menciptakan keluarga bentukannya sendiri. Dan seperti kita (blogger-red) tahu, ada `blogfam` yang menjadi `keluarga virtual` bagi kita bersama. Keadaannya jelas jauh berbeda jika dibandingkan dengan keluarga kita sebelum ini. Sebelumnya keluargalah yang menemukan, mengatur, dan mencetak kita seperti kehendaknya. Tapi kini keadaannya berbalik. Kitalah yang menemukan keluarga ini. Dan tentu saja, kita bukan lagi pihak pasif yang selalu dicetak dan diatur orang lain. Lebih dari itu, kita adalah aktor kreatif yang mengenali diri kita sendiri, termasuk mengetahui dengan pasti apa yang kita butuhkan.

Mungkin saja ada banyak pihak yang menyangsikan eksistensi keluarga virtual (blogfam-red) kita yang satu ini. Terlebih lagi karena blogfam sebatas keluarga kita di dunia maya, yang jelas-jelas berbeda dengan keberadaan keluarga di dunia nyata. Menurut saya ini benar-benar sebuah `apriori` (kesesatan berpikir-red). Bukankah dunia virtual pun layak disebut `ADA` karena kita merasakan keberadaanya?`. Eksistensi pastilah sejalan dengan dengan `relevansi`, `substansi`, dan `esensi`. Blogfam ada untuk semua itu. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu bahkan memandang fenomena ini lebih daripada sekedar realitas. Mereka menyebutnya `hiper-realitas` alias realitas tiada batas.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://lombablogfam.blogsome.com/2005/12/07/entry-27-virtual-family-sosok-keluarga-yang-dicari/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>