Entry 6: Ibu Pertiwi, bangsaku, aku akan berusaha sekuatku untukmu…

August 17, 2006

Penulis: Tiza

Aku terdiam.. mendengarkan.. melihat orang-orang disekitarku, terduduk, berbicara dengan mata-mata penuh harapan, dahi-dahi yang mengkerut, dan mulut yang mengeluarkan suara-suara. “.. jadi seperti yang saya bilang tadi, bahwa lumpur panas yang meluap itu harus kita atasi, LAPINDO sudah berusaha maksimal untuk menutup itu.. ” seorang bapak-bapak separuh baya mengeluarkan pernyataan tadi, rambutnya yang mawalnya mengkilat sudah tak terlihat kilatannya. “ .. saya harap kita datangkat specialis yang bisa membuat lumpur panas itu.. ” “aku punya teman waktu aku dulu sekolah di canada, dia seorang genius mungkin dia bisa membantu.. dan kita persiapkan team ahli untuk itu.. ” pria lain menimpalinya bapak itu. “dana kita bisa rampungkan, buat anggarannya.. ” seorang lain menimpali. Aku mulai ankat kepala dan berbicara, mengeluarkan uneg-uneg, pikiran dan saran. “buat protokol dan sistem yang jelas, kontrak jangan lupa, saya tidak ingin ada glitch, smua harus jelas, saya setuju dengan ide bapak, merumuskan team buat itu, tapi sesuai prosedur dan ingat masyarakat nomor satu” dengan lantang aku bicara. Mencatat semua orang di ruangan itu, tertunduk, terdengar suara tarikan nafas capai dari beberapa orang, tetap dengan nafas penuh harapan.

“BERIKUTNYA… ”

“Gimana kondisi guru-guru?” “Sedang diadakan MBS training, KKG dan pertemuan-pertemuan dengan komite sekolah” seorang ibu muda mejawab dengan lantang. “Sistem pendidikan jangan on and off, buat tim ahli yang bisa menjamin sekitar 20 tahun kedepan, bikin general, flexible, saya tidak mau harus berubah-rubah tiap 5 tahun” “Itu sangat sulit, dengan perkembangan jaman seperti ini, sistem akan terus berubah..” seorang bapak setengah berbisik angkat bicara. “Kalau berubah terus kapan bisa mensosialisasikannya, selalu aja ditimpa dengan yang baru.. ” ibu yang tadi menimpal keras sembari membetulkan kerudungnya. Dia kemudian berbicara detail mengenai ide ide cemerlang. Aku sampai salute melihat itu, dalam pikiranku, pendidikan penting untuk membina generasi bangsa, membina kecerdasan bangsa, orang berilmu, cerdas itu bisa memulai untuk membuat bangsa ini berkobar. Hal yang sepele, investasi yang lama panennya, tapi worth it. Sekarang bagaimana mengasah hati masyarakat supaya tidak konsumtif, greedy, punya compassion, dan emotions yang bermutu.. aku terbuai dengan pikiran-pikiran ku.. sembari melihat mata-mata penuh harapan diruangan ini. “Detail rancangan mengenai ini kita bahas di pertemuan khusus, saya ingin tuntaskan dan jalankan ini”..

“BERIKUTNYA…” dan “BERIKUTNYA… ” dan …

“Iya sesi hari ini cukup.. kita lanjutkan besok, dan tolong perhatikan media informasi, termasuk internet, dan lihat ide dan aspirasi teman-teman, sekarang mari kita berdoa untuk keberhasilan cita-cita kita semua ini, untuk bangsa” Tampak semua orang menunduk, berkomat kamit, dan “Selesai“.. semua merapihkan kertas-kertas dihapadannya, beranjak dan pergi. Aku masih termenung dibangku ku.. melihat teman-teman beranjak dengan mata-mata penuh harapan, nafas yang menghawatirkan tapi semangat yang terkadang membara dan padam. Aku menutup mata sejenak, berdoa kembali sekuat hati, supaya semua diridhai ALLAH, menyembuhkan dan membangkitkan ibu pertiwi tersayang.. air mataku jatuh.. luluh setetes..

“maaf Bu Presiden, ibu sudah ditunggu di istana negara, jemputan ibu sudah datang“.. “ah baiklah.. terima kasih” aku pun beranjak, terdiam sejenak, tarik nafas, mengembalikan sejuta semangat dari ruang dan senyum mulai mengembang, “Ibu Pertiwi, bangsaku, aku akan berusaha sekuatku untukmu… ”

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://lombablogfam.blogsome.com/2006/08/17/p83/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>