Entry 6: Ibu Pertiwi, bangsaku, aku akan berusaha sekuatku untukmu…
August 17, 2006Penulis: Tiza
“BERIKUTNYA… ”
“Gimana kondisi guru-guru?” “Sedang diadakan MBS training, KKG dan pertemuan-pertemuan dengan komite sekolah” seorang ibu muda mejawab dengan lantang. “Sistem pendidikan jangan on and off, buat tim ahli yang bisa menjamin sekitar 20 tahun kedepan, bikin general, flexible, saya tidak mau harus berubah-rubah tiap 5 tahun” “Itu sangat sulit, dengan perkembangan jaman seperti ini, sistem akan terus berubah..” seorang bapak setengah berbisik angkat bicara. “Kalau berubah terus kapan bisa mensosialisasikannya, selalu aja ditimpa dengan yang baru.. ” ibu yang tadi menimpal keras sembari membetulkan kerudungnya. Dia kemudian berbicara detail mengenai ide ide cemerlang. Aku sampai salute melihat itu, dalam pikiranku, pendidikan penting untuk membina generasi bangsa, membina kecerdasan bangsa, orang berilmu, cerdas itu bisa memulai untuk membuat bangsa ini berkobar. Hal yang sepele, investasi yang lama panennya, tapi worth it. Sekarang bagaimana mengasah hati masyarakat supaya tidak konsumtif, greedy, punya compassion, dan emotions yang bermutu.. aku terbuai dengan pikiran-pikiran ku.. sembari melihat mata-mata penuh harapan diruangan ini. “Detail rancangan mengenai ini kita bahas di pertemuan khusus, saya ingin tuntaskan dan jalankan ini”..
“BERIKUTNYA…” dan “BERIKUTNYA… ” dan …
“Iya sesi hari ini cukup.. kita lanjutkan besok, dan tolong perhatikan media informasi, termasuk internet, dan lihat ide dan aspirasi teman-teman, sekarang mari kita berdoa untuk keberhasilan cita-cita kita semua ini, untuk bangsa” Tampak semua orang menunduk, berkomat kamit, dan “Selesai“.. semua merapihkan kertas-kertas dihapadannya, beranjak dan pergi. Aku masih termenung dibangku ku.. melihat teman-teman beranjak dengan mata-mata penuh harapan, nafas yang menghawatirkan tapi semangat yang terkadang membara dan padam. Aku menutup mata sejenak, berdoa kembali sekuat hati, supaya semua diridhai ALLAH, menyembuhkan dan membangkitkan ibu pertiwi tersayang.. air mataku jatuh.. luluh setetes..
“maaf Bu Presiden, ibu sudah ditunggu di istana negara, jemputan ibu sudah datang“.. “ah baiklah.. terima kasih” aku pun beranjak, terdiam sejenak, tarik nafas, mengembalikan sejuta semangat dari ruang dan senyum mulai mengembang, “Ibu Pertiwi, bangsaku, aku akan berusaha sekuatku untukmu… ”


