Resensi 9 : Ortu Kenapa Sih?

August 18, 2006

Penulis : Yunisri

Judul : Teen World : Ortu Kenapa sih?
Penulis : 12 Anggota Blogfam
Editor : Benny Rhamdani
Penerbit : Penerbit Cinta, Bandung
Cetakan : I, Juni 2006
Isi : 156 hlm
Harga : Rp. 25.000,-

—————————————

Buku “Ortu Kenapa Sih?” (OKS) ini bisa menjadi terobosan baru dibidang psikologi remaja di Indonesia. Upaya Blogfam dan Penerbit Cinta untuk menyajikan bacaan edukatif yang ringan dan sederhana namun mengandung pesan, patut dihargai.

Yang membuat beda buku yang dilaunching di MP Book Point, 1 Juli 2006 yang lalu ini adalah kemasannya dalam menyampaikan pesan. Cerita yang didasarkan pada pengalaman nyata dari para penulisnya dibiarkan mengalir apa adanya. Sisipan tips & triks juga memberi nilai ‘tambah’ dibandingkan buku sejenis. Gaya bahasanya ngepop khas remaja, sehingga mudah dicerna.

Walau tak utuh memotret realitas aktual kehidupan remaja, seperti narkoba, seks bebas, putus sekolah, tawuran atau kasus bunuh diri, misalnya. Namun lewat kumpulan cerita pendek non fiksi ini, pembaca seakan diajak menginstropeksi diri dan belajar menjadi orang yang lebih ‘asertif’ atau mampu membawa diri dalam situasi apapun tanpa harus menyakiti orang lain.

Krisis Identitas

Buku ini dibagi kedalam 4 bab, yang diistilahkan dengan ‘ronde’ dan setiap bab berisi tema sehari-hari yang umumnya dialami para remaja, seperti “Hobi vs Ortu”, “Pilihan vs Nyokap”, “Kenapa Bokap?” dan “Berakhir Indah”. Masing-masing bab berisi 4 cerita , kecuali bab terakhir hanya 3 cerita sehingga seluruhnya berjumlah 15 cerita.

Semua tema itu bermuara pada persoalan klasik remaja yaitu: krisis identitas. Krisis ini membingungkan remaja untuk berperilaku. Mereka serba tanggung. Dibilang dewasa tidak, dikategorikan kanak-kanak juga bukan.

Dalam proses pencarian jati diri, remaja terdorong untuk berperilaku bukan sebagai dirinya sendiri. Mereka lebih ‘enjoy’ berpenampilan dan bergaya hidup persis penyanyi idolanya atau orang-orang yang justru berkarakter beda dengan dirinya. (”Fanz Fanatiz” : Ryu Tri , “Saatnya Menjadi Diriku” : Be Samyono).

Kebingungan semakin bertambah ketika ortu yang seyogyanya menjadi panutan justru bertindak tidak sesuai dengan gambaran idealnya , menikah diam-diam dengan wanita lain, misalnya (”Sepotong Maaf” - Ryu Tri). Dan juga terhadap sikap ortu yang ‘ambivalen’ atau mendua dalam “Me vs Rokok” (Iwok), dimana sang bokap yang perokok justu melarang anak-anaknya untuk tidak merokok.

Berhadapan dengan ortu, sebenarnya para remaja mendambakan pengakuan bahwa mereka itu penting dan dewasa. Dalam arti, hak mereka untuk berbeda pendapat ingin didengarkan serta diberi keleluasaan selayaknya orang dewasa.

‘Kekuasaan’ ortu yang berlebihan terhadap anaknya justru menghambat kebutuhan si anak untuk mandiri, sehingga ujung-ujungnya mereka mencari pelarian dengan caranya sendiri. (”Impian Ancur” : Nunik Utami Ambarsari, “Ransel Pilihan Ibu” : Eben Ezer Siadari atau “Rumah: Tempat Terindah” : Prakoso Bhairawa Putera)

Untuk mengatasi benturan-benturan tersebut, tidak ada jalan lain selain menjadikan relasi anak-ortu sebagai hubungan sahabat. Dengan bersahabat, anak dan ortu bisa bebas curhat, sehingga kebekuan komunikasi bisa diminimalkan. Komponen lain semisal kesabaran, toleransi dan tentu saja doa mutlak diperlukan dalam hubungan ini.

Jika titik temu sudah tercapai dan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna, ditanamkan di hati anak dan ortu, maka hubungan akan menjadi harmonis. Demikian sebagaimana dirasakan oleh Eben Ezer Siadari dalam “Ransel Pilihan Ibu”, dimana Eben dan ibunya saling menyadari kesalahan. Disusul dengan kesadaran dari ayah Ryu Tri yang akhirnya ‘kembali’ kepelukan keluarga berkat kesabaran dan doa sang anak.

Hal serupa tergambar pula dalam cerita-cerita lainnya yang berakhir dengan kesimpulan: ortu, bagaimanapun juga pasti sayang pada anaknya.

Akhir Yang Manis

Tanpa mengurangi penghargaan terhadap proses kreatif 12 penulisnya, penerbit dan blogfam, bagi sebagian pembaca, bisa jadi pengalaman yang dibeberkan dibuku ini terkesan terlalu ‘manis’ alias kurang ‘greget’, sebab mayoritas persoalan yang dibahas sangat ‘elementer’ dengan solusi yang terdengar ‘abstrak’ , sehingga bobot perenungannya kurang maksimal. Namun kita dapat memaklumi, toh dibalik pemaparan yang ‘terlalu manis’ itu, terdapat ‘mutiara’ tersembunyi yang bisa dijadikan pembelajaran.

Selain itu , buku yang bermaksud ringan ini, sayangnya tidak didukung oleh ilustrasi yang menarik dan full color pada setiap ceritanya, sehingga karakter remaja belum terwakili dan terkesan monoton. Termasuk pula , kesalahan pengetikan angka dibagian bab terakhir (hal.5) dan juga tidak dipasangnya foto para penulisnya.

Namun, secara keseluruhan, kumpulan cerita non fiksi bergenre chicken soup ini telah menunjukkan ‘kekuatan’ nya sebagai bacaan yang mampu menggugah semangat dalam mewujudkan generasi muda yang tidak saja cerdas tapi juga asertif.

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://lombablogfam.blogsome.com/2006/08/18/resensi-9-ortu-kenapa-sih/trackback/

  1. aduh !!!!!!!!!!!!! makasih banget ya resensix.Buat tugas sekul nih!!!sekali lagi makacih!!!!

    Comment by wiga — November 2, 2008 @ 5:51 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>