Entry 20 : Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak!

August 18, 2007

Daeng Rusle
http://noertika.wordpress.com/2007/08/18/kami-masih-terjajah-lalat-tikus-dan-lapak/

Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak!

Tak banyak yang bisa kuingat tentang 17an. Kalaupun ada, sebahagian besar adalah ‘hanya’ serunya menyaksikan lomba-lomba yang diadakan di lingkunganku. Dan sayapun, karena keterbatasan fisik dan keterampilan, sangat jarang mengikuti lomba itu. Dalam hati kadang saya merutuk sendiri, siapa yang memulai mengaitkan perayaan merdeka dengan lomba-lomba? Agak sulit jalan pikiran saya menemukan kesamaan antara kemerdekaan dan persaingan, terutama buat saya yang lemah fisik. Apakah merdeka adalah melulu hanya adu kuat, adu cepat, atau adu pintar? Hanya satu yang paling kunikmati dalam setiapkali menonton lomba-lomba itu, kelucuan para peserta saja! Terkadang hanya menertawai kebodohan dan kemalangan acap kali mereka jatuh atau gagal. Itu mungkin yang sedikit banyak menyegarkan perasaanku yang hanya bisa jadi penonton saja.

8-sampah.jpg8-sampah.jpgMencoba mengingat kembali momen 17an yang paling terkenang di kepala seakan seperti mengais remah-remah kenangan masa kecil saya nun jauh disana, di sebuah kampung pinggiran kota Makassar bernama Pannampu. Remah-remah itu teramat sulit untuk saya kumpulkan, untuk kemudian membentuknya menjadi mozaik yang indah sebagaimana kenangan kanak-kanak yang lain. Yang ada hanyalah mozaik yang buruk, serpihan dari kesedihan yang dibingkai dalam figura kekecewaan. Hanya bau busuk comberan dan sampah rumah tangga, kerumunan lalat, biakan cecurut, dan hiruk pikuk dari para pedagang yang tiada hentinya, sepanjang tahun-tahun masa kanak-kanak yang kulewati di Pannampu itu.

Pada awal pembukaan kampung Pannampu di awal tahun 1980-an, lingkungan kami adalah lingkungan yang asri. Bersih dan sejuk. Deretan rumah seragam rapi dan tertata. Tanah yang lembab oleh hujan dan embun pagi menyeruak ke setiap bilik di kala pagi, dan segarnya angin sore berhembus saat senja. Hening senyap malam menemani kami dikala gelap. Di belakang kampung kami, terhampar Danau Pannampu yang indah ditumbuhi bebungaan enceng gondok, yang tak banyak. Saat senggang di sore hari, para warga menghabiskannya dengan memancing di danau yang indah itu. Di sisi timur, ada pekuburan Beroanging yang banyak menampung jazad korban Tampomas II. Di utaranya ada puluhan tambak pacce’lang (penggaraman) yang memasok garam ke seluruh Makassar.

Disetiap tahun ketika Agustus tiba, di masa awal itu, kami selalu memperingati hari perayaan kemerdekaan Indonesia dengan sangat senangnya. Seakan kami lah yang memerdekakan Indonesia, ya kami, anak-anak kecil saat itu. Berbagai macam lomba kami mainkan dengan semangat dan penuh suka. Berbagai lomba kanak-kanak juga kami mainkan; makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, hingga panjat pinang. Untuk menghadirkan semangat kewiraan, kami acapkali memainkan fragmen peperangan dengan bermain bundu’ (perang, bhs makasar). Ada yang berperan sebagai pejuang Indonesia bersenjatakan bambu runcing, dan ada juga yang berlaku sebagai tuan kompeni belanda. Yah, seperti di filem-filem yang kami nonton di TVRI, kala itu. Kami adalah anak-anak merdeka yang sehat dan gembira!

Tahun 1986, kampung Pannampu seperti kena kutuk. Pendulum kebahagiaan kami beringsut ke titik nadir. Pemerintah Kota Makassar menetapkannya sebagai area TPA, Tempat Pembuangan Akhir. Seluruh sampah produksi harian warga Makassar dihamburkan di danau Pannampu dan sekitarnya. Danau yang indah itu dalam sekejap menjadi bukit sampah yang menjijikkan. Segala macam bau busuk menjadi aroma saban hari bagi warga. Segala jenis lalat, cecurut dan tikus got, cacing dan ulat, siput dan lintah tumpah ruah menjadi anggota mayoritas ekosistem baru, membentuk masyarakat sampah kota bersama dengan serbuan para pemulung bak semut ketemu gula.

Di musim hujan, air hujan bercampur sampah dan tikus-tikus menghantar bau tengik ke dalam rumah, banjir comberan hingga selutut. Ketika musim kemarau, giliran lalat dan lintah merengsek masuk ke meja makan dan dinding rumah yang lembab. Jalan di kompleks juga kena tulah. Kubangan raksasa nyaris terbentuk setiap kali truk-truk sampah melewati jalan tanah, yang sesekali membagi remah sampah disisi jalan. Warga kemudian menjadi akrab dengan bau dan penyakit, dan tidak ada kompensasi kesehatan dari pemerintah.

Saat Pemilu di tahun 1987, warga Pannampu menjadikan partai pemerintah sebagai pecundang saat pemilu. Bagi kami, sikap itu adalah bentuk protes yang menyelimuti kekecewaan kami. Sikap ini kemudian berdampak hingga beberapa tahun berselang. Pemukiman itu tetap dipertahankan sebagai TPA walau sampah sudah menggunung, ber-bonus penyakit! Kanak-kanak yang tak mengerti itu saban hari bermain dengan bahaya, jarum suntik bekas rumah sakit kami jadikan mainan dokter-dokteran, kondom bekas kami tiup hingga menyerupai balon yang indah. Bahan-bahan kimia meracuni tanah, air dan tanaman kami.

Jalan depan rumah kami makin berlubang, tanpa pernah tersentuh perbaikan. Lalu lalang truk sampah dan bau yang mengiringi lambat laun membuat warga menjadi tidak sabar, kemudian meledak menjadi demonstrasi. Di tahun 1990, ratusan warga tua dan muda menghadang jalan masuk truk sampah dengan parang dan badik di tangan. Truk sampah disuruh balik, jalan masuk di portal dengan balok besar. Aksi ini kemudian mampir dalam liputan wartawan cetak, masuk koran. Pemerintah Kota kemudian terpaksa menutup TPA Pannampu. Tapi sampah tetap menggunung.

Hanya berselang dua tahun, pemerintah Kota kembali dengan ketetapan yang baru. Menjadikan perumahan Pannampu sebagai tempat penampungan para pedagang Pasar Terong yang direnovasi. Wajah komplek perumahan kembali berubah. Bukan berubah membaik, tapi memburuk. Hingga hari ini, ketika Indonesia menjadi bangsa merdeka berusia enam puluh dua tahun.

Sejak saat itu, kami kanak-kanak kecil yang akrab dengan lalat dan tikus, comberan dan bau busuk, dan penyakit kemudian berusaha memaknai kembali arti kemerdekaan dalam suasana yang sangat memprihatinkan. Tercerabut dari hak untuk menikmati lingkungan yang bersih. Teman-teman kami kemudian banyak yang bergulat dengan penyakit. Sedikit yang sehat total, banyak yang berpenyakitan. Beberapa kawan kami mati. Mungkin karena busuk dan penyakit. Mungkin karena takdir semata. Beberapa warga kemudian tak tahan, pindah ke tempat lain yang lebih sehat.

Tidak ada lagi agustus yang seru, agustus yang ceria. Kami tak lagi merasa kanak-kanak yang merdeka, yang bebas bermain bundu’ dan berlari lepas di dalam kampung yang asri. Tanah air kami dijajah oleh lalat, tikus dan lapak para pedagang. Kami, kanak-kanak yang kemudian beranjak dewasa saat ini kemudian berperang dan berusaha memerdekakan diri. Mencari tempat yang jauh dari lalat, tikus dan lapak. Hingga saat ini, saya sedang berusaha memindahkan keluarga yang masih terjajah disana, ke tempat yang merdeka. Merdeka dari lalat, tikus dan lapak. Sedang adik-adik kami, memulai lagi kemerdekaan dengan nasib yang tak jauh beda. Kami masih terjajah oleh lalat, tikus dan lapak. Masih pantaskah kami berteriak merdeka lagi? Entahlah.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://lombablogfam.blogsome.com/2007/08/18/entry-20-kami-masih-terjajah-lalat-tikus-dan-lapak/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>