Gombal 26 : Parsiti, ingatkan aku!
August 18, 2007Daeng Rusle
http://noertika.wordpress.com/2007/08/17/parsiti-ingatkan-aku/
Parsiti, ingatkan aku!
Lima hari lalu, saat menonton TV sambil menikmati kopi panas dan biskuit manis, tiba-tiba aku jatuh cinta padamu, Parsiti. Kusaksikan betapa indah tubuhmu bergayutan di ketinggian ratusan meter dari pijakan tanah. Urat ototmu tersembul bagai atlet yang gemar mempertontokan otot yang segar. Bibirmu yang merah merekah memancarkan aura pesona bagi setiap pejantan sepertiku. Berbekal kain hasil kreasi mahajenius yang kau untai menjadi temali kuat seakan melengkapi kekagumanku, terkesima melihat heroisme dirimu yang mengingatkanku pada wira wanita dari Makassar, Emmy Saelan di jaman perang kolonial dulu. Parsiti, aku jatuh cinta padamu.
Parsiti, aku setia mengikuti setiap sekual cerita tentangmu di televisi, internet dan koran. Seperti sedang kasmaran, kubaca dengan antusias kisahmu yang menghentak kelakianku. Kutahu dari berita pula, bahwa kini kau mendekam di bilik askar tentera jiran, mengkonfrontir pengakuan majikanmu yang mengelak atas tuduhan yang kau lontarkan dari bibirmu yang merekah, dan matamu yang sembab. Tentu saja, maling budiman pun tak kan mengaku, apalagi jahanam yang menghadiahimu lima bulan siksaan tak terkatakan. Parsiti, aku mencintaimu sepenuh hati sedalam jiwa.
Ketika tertidur di malam yang indah di atas kasur yang empuk Parsiti, aku berkhayal indah tentangmu. Pendulum waktu yang kukendarai membawaku ke sebuah rumah yang teduh. Hanya ada kita berdua. Ketika di hari yang merdeka ini aku berpesan kepadamu…
Parsiti, ingatkan aku bahwa hari ini berarti merdeka dari penjajahan. Ceritakanlah aku tentang para pejuang yang rela menebus nyawa dengan selembar bendera yang dikerek ke atas tiang tinggi. Dan darah dan airmata yang tak terhitung menetes di persada, sebanyak tetesan minyak dan gas yang mereka ambil atas nama kapitalisasi.
Parsiti, sadarkan aku saat pagi menjelang. Jam sepuluh tepat aku hendak berbaris di lapangan sana. Tegap menghormat pada kibaran dua warna sewarna darah dan tulang kita. Saat mentari naik ke penggalah, ingatkan aku untuk membawa rasa wira yang membuncah seperti dirimu seawal meninggalkan kampung di wonosobo.
Parsiti, saat pulang ku nanti, mintalah aku untuk bercerita apa pesan upacara yang tentunya adalah kenangan ke masa dulu dan harapan ke masa depan. ketika jiwa yang merdeka membaca dan berseru di langit yang bebas, sebebas burung yang tak bersangkar.
Parsiti, tapi tiba-tiba kuterbangun dari mimpi indah itu dan kusadar bahwa dirimu sedang tak berdaya di negeri sana, negeri yang jauh. Tanpa sanak. Hanya berteman petugas yang menyertai dari pemerintah. Dalam hati aku bertanya dengan lembut, cukupkah itu, Parsiti? Tidakkah kau inginkan beribu doa dari sini, dari pencintamu? Atau perlukah daku memohon maaf atas ketakberdayaan kami disini tuk menyertai mu di negeri sana. Negeri dimana jiwamu menjadi negeri yang terjajah.


