widie (wku)
http://belummandi.blogspot.com/2007/08/malunya-si-apem.html
Debut 17-an: Malu!
Dulu setiap teringat kejadian itu, bisikan untuk bunuh diri sering muncul.
“Ayo… tusukkan pisau tumpul itu ke dadamu… daripada menanggung malu setiap saat, ayo tunggu apa lagi… tancaaappp…”
Namun, seiring bertambah usia, niat untuk bunuh diri berubah jadi keinginan untuk operasi plastik mengubah wajah.
“Bunuh diri serem ah… mending ganti wajah jadi mirip Sylvester Stay Alone, orang yang ngejek kamu pasti takut liat tampang Rambo-mu…” begitulah bisikan yang bernuansa ngawur banget.
Nah, karena transformasi dari “pemalu” menjadi “tak tahu malu” telah berjalan sukses, kini saatnya saya buka aib ini. Mungkin ada di antara sampeyan yang jadi saksi kejadian 20 tahun yang lalu ini, silakan tertawa lagi Mbah…
Kalo ndak salah, saat itu saya masih kelas 1 atau 2 SD. Tinggal di pelosok desa, di ibu kota kecamatan. Suasana desa itu tentu jadul banget dibanding sekarang. Nah, saat itu menjelang perayaan tujuhbelasan, suasana desa mendadak rame.
Sebagai anak berjulukan Apem (anak pemalu), saya pun mesti didorong, ditarik hingga digotong jungkir balik biar mau ikut lomba-lomba tujuhbelasan.
Dan entah kenapa pula dalam debut ikut lomba tujuhbelasan, saya dipaksa ikut lomba yang mengandung unsur “memasukkan sesuatu”, yaitu memasukkan benang ke lobang jarum dan memasukkan pensil ke dalam botol. Mungkin pikir panitia, kalo ikut balap karung, mereka tidak bisa membedakan mana karung mana si Apem, hehe.
Lomba pertama yang saya ikuti adalah memasukkan benang ke jarum. Hasilnya? Gagal total. Tapi pelajaran yang bisa dipetik saat itu adalah benang bisa mudah masuk ke lobang jarum jika dibasahi di ujung bibir, nah…
Sebenarnya mental saya sudah down saat mulai lomba masukin pensil. Namun, panitia yang galak-galak dan bau ketiak berhasil memaksa saya berdiri di garis start mirip monyet berdiri dengan ekor berbentuk pensil yang diikat tali.
“Satu, duwak… tigaaakkkk…!!!”
Aba-aba panitia itu membuat saya panik dan seketika ikut berlari ke arah botol. Semua peserta berusaha memasukkan pensil yang tergantung bak ekor monyet itu. Dan dengan bakat besar yang saya miliki, sekali sentuhan saja pensil itu langsung masuk ke dalam botol.
“Yaaakkk…. Akhirnya juara pertama adalah… si Apemmm…!!!”
Saya bengong, penonton tepuk tangan sambil tertawa…
Dua hari berikutnya, panggung perayaan di perempatan jalan telah berdiri megah. Sound system yang disetel khusus untuk aliran dangdut dan bossanova sudah siap. Begitu pula saya, sejak pukul empat sore telah siap tampil naik panggung untuk menerima hadiah dari Pak Lurah, padahal acara baru mulai jam tujuh malam.
Bapak, ibu, bulik, om dan sodara-sodara saya telah siap mendandani saya agar tampil dengan gaya terbaik. Kemeja lengan pendek, celana pendek halus, sepatu bertali dan rambut belah pinggir klimis. Agaknya mereka bangga si Apem bisa berprestasi.
Tiga jam menunggu tak terasa bagi kami. Penonton dari berbagai pelosok desa mulai menyemut. Yah harap maklum, hiburan adalah barang langka di desa pada tahun 1987.
Saat yang ditunggu pun tiba, pembagian hadiah bagi pemenang lomba tujuhbelasan. Saya pun telah berdiri manis di bawah panggung.
“Juara makan krupuk… si Bakwan!! Juara makan kelereng… (lho?) .. si Bakpao !!… juara masukin benang… si Lemper!!! Dan juara pensil botol… si Apem!!!”
Maka dengan hati deg-degan, saya naik ke panggung mengikuti anak-anak lainnya. Mereka diatur satu persatu berdiri berjejer di atas panggung. Hingga insiden itu muncul…
“Guuubraaaakkk….!!”
“Waaaa…!!! Hua ha ha… suit… suit …!!!”
Dengan suksesnya saya terjatuh berdebum, nyungsep, mencium lantai panggung karena kaki nyangkut kabel yang berseliweran saat berjalan di panggung. Koor tertawa penonton bahkan terasa dahsyat melebihi tawa yang sering ditujukan kepada pelawak berinisial T di jaman ini.
Hampir saja saya nangis saat itu. Tapi panitia membantu berdiri sambil menodongkan pistol di belakang punggung saya supaya ndak nangis (hehe.., maaf yang ini fiksi).
Selanjutnya, penyerahan hadiah dari Pak Lurah jadi hambar bagi saya. Bukan cita-cita saya jadi bahan tertawaan di panggung. Di kejauhan, reaksi keluarga saya sangat bervariasi. Ada yang kelihatan cemas, ada yang menutup muka, ada yang pura-pura ndak lihat, ada yang sibuk berdoa, ada yang mengelap keringat.
Hadiah berupa buku tulis dan pulpen jadi tidak terlalu menghibur. Sejak saat itu rasa malu, malu dan malu again selalu menghantui. Predikat Apem yang memalukan makin lekat.
“Aduh… Dik Apem ini… kasihan ya semalam jatuh, hati-hati Dik…” Ungkapan keprihatinan dari ibu pemilik warung sebelah rumah ini lah yang memicu untuk berpikiran bunuh diri memakai pisau dapurnya yang tumpul. (wku)