Entry 19 : Tukang foto dadakan

August 18, 2007

Rekian Nur Kristiana
http://kianaza.blogspot.com/2007/08/tukang-foto-pitulasandadakan.html

Tukang foto dadakan

Alhamdulillah dah punya kamera digital, bisa menyalurkan bakat ngambil foto orang2 yg keren2…halah..

Kebetulan blogfam ngadain lomba foto plus ngarang…karena tiap pitulasan pasti punya kenangan buatku..tapi sayang ga ada foto..
Ya aku cerita pitulasan kali ini aza…

Karena pitulasan kali ini juga heboh menurutku.,..

Hahahha karena dah diminta foto disana-sini . n it’s freeee…aq she seneng2 aza kebagian tugas jadi tim publikasi..soale bisa bebas moto dgn macem gaya..bisa njengking, duduk, tidur..bisa ketengah lapangan..bisa dapet krupuk, bisa makan pisang gratis..coca cola gratis…

Ahhhh..enaknya bisa jadi panitia dadakan pitulasan..

Seneng bisa ikut meramaikan..walo ga kebagian jadi peserta lantara aq bingung mo masuk kelompok apa..anak2 jelas ngga, dewasa…lah mun aku tok..yg laen pada ngedon dirumah.
Ikut ibu2..yo aku rung ibu-ibu ik.*padahal postur mendukung..grrrr*

Yang pasti pitulasan kali ini indah buatku..bisa kesana sini (komplekku dan komplek tanteku) tuk hunting foto…hehhe..mo hunting foto di Sempur (lapangan di Bogor) jam 8 pagi kok sepi ya..dah bubar …hrrr kesiangan ik…

Halah ternyata malah belum mulai…sayang telat aku tahunya pas sore…gagal hunting foto detik-detik proklamasi deh…

Gak papa..sing penting pitulasan kali ini menarik lahhh..

Entry 18 : Debut 17-an: Malu!

widie (wku)
http://belummandi.blogspot.com/2007/08/malunya-si-apem.html

Debut 17-an: Malu!

Dulu setiap teringat kejadian itu, bisikan untuk bunuh diri sering muncul.

“Ayo… tusukkan pisau tumpul itu ke dadamu… daripada menanggung malu setiap saat, ayo tunggu apa lagi… tancaaappp…”

Namun, seiring bertambah usia, niat untuk bunuh diri berubah jadi keinginan untuk operasi plastik mengubah wajah.

“Bunuh diri serem ah… mending ganti wajah jadi mirip Sylvester Stay Alone, orang yang ngejek kamu pasti takut liat tampang Rambo-mu…” begitulah bisikan yang bernuansa ngawur banget.

Nah, karena transformasi dari “pemalu” menjadi “tak tahu malu” telah berjalan sukses, kini saatnya saya buka aib ini. Mungkin ada di antara sampeyan yang jadi saksi kejadian 20 tahun yang lalu ini, silakan tertawa lagi Mbah…

Kalo ndak salah, saat itu saya masih kelas 1 atau 2 SD. Tinggal di pelosok desa, di ibu kota kecamatan. Suasana desa itu tentu jadul banget dibanding sekarang. Nah, saat itu menjelang perayaan tujuhbelasan, suasana desa mendadak rame.

Sebagai anak berjulukan Apem (anak pemalu), saya pun mesti didorong, ditarik hingga digotong jungkir balik biar mau ikut lomba-lomba tujuhbelasan.

Dan entah kenapa pula dalam debut ikut lomba tujuhbelasan, saya dipaksa ikut lomba yang mengandung unsur “memasukkan sesuatu”, yaitu memasukkan benang ke lobang jarum dan memasukkan pensil ke dalam botol. Mungkin pikir panitia, kalo ikut balap karung, mereka tidak bisa membedakan mana karung mana si Apem, hehe.

Lomba pertama yang saya ikuti adalah memasukkan benang ke jarum. Hasilnya? Gagal total. Tapi pelajaran yang bisa dipetik saat itu adalah benang bisa mudah masuk ke lobang jarum jika dibasahi di ujung bibir, nah…

Sebenarnya mental saya sudah down saat mulai lomba masukin pensil. Namun, panitia yang galak-galak dan bau ketiak berhasil memaksa saya berdiri di garis start mirip monyet berdiri dengan ekor berbentuk pensil yang diikat tali.

“Satu, duwak… tigaaakkkk…!!!”

Aba-aba panitia itu membuat saya panik dan seketika ikut berlari ke arah botol. Semua peserta berusaha memasukkan pensil yang tergantung bak ekor monyet itu. Dan dengan bakat besar yang saya miliki, sekali sentuhan saja pensil itu langsung masuk ke dalam botol.

“Yaaakkk…. Akhirnya juara pertama adalah… si Apemmm…!!!”

Saya bengong, penonton tepuk tangan sambil tertawa…

Dua hari berikutnya, panggung perayaan di perempatan jalan telah berdiri megah. Sound system yang disetel khusus untuk aliran dangdut dan bossanova sudah siap. Begitu pula saya, sejak pukul empat sore telah siap tampil naik panggung untuk menerima hadiah dari Pak Lurah, padahal acara baru mulai jam tujuh malam.

Bapak, ibu, bulik, om dan sodara-sodara saya telah siap mendandani saya agar tampil dengan gaya terbaik. Kemeja lengan pendek, celana pendek halus, sepatu bertali dan rambut belah pinggir klimis. Agaknya mereka bangga si Apem bisa berprestasi.

Tiga jam menunggu tak terasa bagi kami. Penonton dari berbagai pelosok desa mulai menyemut. Yah harap maklum, hiburan adalah barang langka di desa pada tahun 1987.

Saat yang ditunggu pun tiba, pembagian hadiah bagi pemenang lomba tujuhbelasan. Saya pun telah berdiri manis di bawah panggung.

“Juara makan krupuk… si Bakwan!! Juara makan kelereng… (lho?) .. si Bakpao !!… juara masukin benang… si Lemper!!! Dan juara pensil botol… si Apem!!!”

Maka dengan hati deg-degan, saya naik ke panggung mengikuti anak-anak lainnya. Mereka diatur satu persatu berdiri berjejer di atas panggung. Hingga insiden itu muncul…

“Guuubraaaakkk….!!”

“Waaaa…!!! Hua ha ha… suit… suit …!!!”

Dengan suksesnya saya terjatuh berdebum, nyungsep, mencium lantai panggung karena kaki nyangkut kabel yang berseliweran saat berjalan di panggung. Koor tertawa penonton bahkan terasa dahsyat melebihi tawa yang sering ditujukan kepada pelawak berinisial T di jaman ini.

Hampir saja saya nangis saat itu. Tapi panitia membantu berdiri sambil menodongkan pistol di belakang punggung saya supaya ndak nangis (hehe.., maaf yang ini fiksi).

Selanjutnya, penyerahan hadiah dari Pak Lurah jadi hambar bagi saya. Bukan cita-cita saya jadi bahan tertawaan di panggung. Di kejauhan, reaksi keluarga saya sangat bervariasi. Ada yang kelihatan cemas, ada yang menutup muka, ada yang pura-pura ndak lihat, ada yang sibuk berdoa, ada yang mengelap keringat.

Hadiah berupa buku tulis dan pulpen jadi tidak terlalu menghibur. Sejak saat itu rasa malu, malu dan malu again selalu menghantui. Predikat Apem yang memalukan makin lekat.

“Aduh… Dik Apem ini… kasihan ya semalam jatuh, hati-hati Dik…” Ungkapan keprihatinan dari ibu pemilik warung sebelah rumah ini lah yang memicu untuk berpikiran bunuh diri memakai pisau dapurnya yang tumpul. (wku)

Entry 17 : Impian Masa Kecilku

Salman Faris
http://blog.indosiar.com/salmanf/?op=readblog&idblog=73228

Impian Masa Kecilku

Aku melihat beberapa orang diatas panggung. Aku tersenyum kecil. Pakaian yang aneh, pikirku. Mereka memakai sarung besar seperti sarung yang kedodoran, sementara bajunya tampak menyala dengan warna mencolok seperti merah dan hijau. Asesoris mereka pu tak kalah heboh. Ikat kepala dengan beberapa buah pernik-perniknya membuat mereka cantik. Aku menyebutnya cantik karena aku adalah laki-laki. Aku mengenal mereka dengan baik. Mereka adalah teman kakakku. Aku menyebutnya mbak, karena memang lebih tua dariku.

Aku melihat mereka menari sambil di iringi musik yang mengalun merdu di telingaku. Aku terpesona oleh penampilan mereka. Mereka menari dengan sempurna. Selanjutnya penampilan dari beberapa orang yang bernyanyi bersama. Aku belum tahu apa yang mereka kerjakan. Namun saat ini aku tahu bahwa itulah paduan suara. Lagi-lagi aku pun terpesona. Kemudian muncullah seseorang yang membacakan beberapa pengumuman, dan setelah aku dewasa barulah aku tahu bahwa itulah yang disebut pembawa acara. Setelah itu, muncullah beberapa orang membawakan puisi. Aku masih terperangah dan aku tersentuh, tapi aku tak tahu arti semuanya. aku hanya mendengarkan dengan hikmad. Dan penampilan malam perayaan HUT RI yang terakhir di tutup dengan sejumlah orang yang membuat aku tertawa.

Saat itu usiaku belum genap enam tahun, namun aku terpaku menatap semua penampilan yang hanya ada dalam perayaan HUT RI. Pada saat itu, aku belum mengetahui apakah itu sebuah impian dan cita-cita. Aku hanya menginginkan hal itu menjadi kenyataan. Namun, aku hanya bisa memendamnya dalam-dalam. Aku takut untuk tampil dalam perayaan HUT RI, bahkan untuk mengikuti lomba-lomba yang sering aku lihat pada saat aku kecil. Sebetulnya aku ingin mengikuti perayaan dan bergembira. Namun, aku takut. Aku takut akan kekalahan. Karena aku tahu bahwa aku adalah orang lemah yang tak mempunyai kekuatan dan menikmati setiap perlombaan yang ada. Pada saat bermain di lingkungan sekitar, pastilah aku akan diolok-olok sebagai anak yang lemah. Tapi aku sadar, aku memang lemah. Aku tak kuat menerima cemoohan yang deras mengalir dari mulut teman-temanku.
Impian, tinggal impian. Saat itu seakan harapan sirna. Tapi aku mendapatkan gantinya. Aku merasakan sebuah perasaan nyaman ketika menginjak masa sekolah menegah pertama dan atas. Bahkan ketika aku memasuki masa dewasa sekarang ini, aku merasakan sebuah perjuangan untuk meraih impian masa kecilku. Aku teringat paduan suara, pembawa acara, pembacaan puisi, dan parodi. Dengan berjalannya waktu, ternyata aku telah meraih semua impian masa kecilku. Aku pernah terlibat dalam paduan suara pada saat SMA dan masa kuliahku. Sementara, aku telah beberapa kali menjadi pembawa acara untuk sebuah organisasi tempat aku bernanung dulu. Sedangkan puisi memang telah menjadi bagian dari hidupku. Dan yang terakhir, parodi. Aku telah telah bermain di acara perpisahan KKN pada tahun 2005.
Mungkin impian masa kecilkulah yang menyebabkan aku setegar sekarang dan berusaha meraih semua impian itu. Dan karena pada saat, perayaan HUT RI sedikit banyak telah membangkitkan semangat untuk meraih semua impian.
Aku terus berharap pada setiap tanggal 17 Agustus, aku dapat meraih semua impian masa kecilku. Semua impian untuk menjadikan aku berguna bagi Indonesia.

Entry 16 : Insiden Panjat Pinang Tiap 17 Agustusan

Ceko
http://cekospy.multiply.com/journal/item/231/Insiden_Panjat_Pinang_Tiap_17_Agustusan

Insiden Panjat Pinang Tiap 17 Agustusan

Lomba Agustusan paling seru yang gue inget tiap tahunnya itu adalah tiap nonton atau ikutan Lomba Panjat Pinang. Karena di lomba panjat pinang ini anak kecil punya kesempatan nginjek-nginjek orang yang lebih tua. Hehe…

Kejadian paling sering adalah celana merosot. Hihihi… lucu banget ketika si Regent (nama panggilan) celananya merosot ketarik temennya dari bawah, sehingga pemandangan vulgar itu jadi bahan tertawaan. Si Regen terang aja langsung malu dan turun ke bawah benerin celananya. Ada juga yang lebih porno pas resleting celana bagian depannya kebuka dan keliatan dalemannya. Ih, malu banget. Gue gak tau sapa, lupa lagi soalnya. Bahkan ada yang sampe kepalanya berdarah ketiban hadiah runtuh.

Itu kejadiannya pas gue SMP kalo nggak salah. Waktu itu, ‘pinang’ yang terlalu kepanjangan bikin perjuangan para peserta gagal dan gada yang berhasil satu grup pun yang mencapai puncak. Sementara energi mereka udah habis, sudah lemes dan capek. Seorang berama Asep yang meman gumasep (istilah Sunda untuk ‘Sok Kegantengan’) sendirian nyobain naik dan saking gregetnya doski menggoyang-goyang piang sekenceg-encengnya dan tiba-tiba dari atas sebuah benda jatuh, nimpa jidatnya, kepalanya langsung ngeluarin darah terkena benda yang ternyata gelas kaca. Si Asep langsung pingsan. Pemandangan itu bikin ngeri dan suasana jadi mencekap, karena takut terjadi sesuatu sama si Asep. Si Asep digotong ke tempat yang aman dan diobati. Lalu muncullah pahlawan; seorang Veteran yang udah terbiasa latihan militer berhasil naik sendirian ke atas tanpa bantuan siapaun dan hadiahpun dibagi-bagi ke bawah. Selesai acara, sia Asep yang udah diperban kembali ceria dan mengacung-acungkan tangan seolah dia yang jadi pahlawan. Tapi semua penonton ngasih aplus padanya sebagai tanda syukur bahwa si Asep masih hidup dan bisa menikmati hadiah utama karena kecerobohannya!

Tahun 2003 atau 2004 gue lupa lagi. Sewaktu pulang kerja pagi nyokap bikin gue malu. Ceritanya gue belum jadi peserta panjat pinang. Cuman jadi panitia bantu-bantu dan biasanya sih jadi MC.Nah, karena saking serunya liat anak-anak berjuang dipenuhi lumpur,stemplet (pelumas kayak oli gitu), dan bertelanjang dada ria dengan bodi-bodi yang mengkhawatirkan gue jadi ikutan semangat dan memberanikan diri untuk ikut jadi peserta. Baru aja gue buka baju terus ikut naik dalam satu season, eh, pas turun nyokap gue nyamperin; “Pi, ganti dulu celananya kotor, buat dipake kerja kan susah nyucinya!”
Waduh, malu banget gue nyokap dengan polosnya bilang kayak gitu di tengah para penonton, peserta dan panitia. Jadi ketahuan deh, kalo gue masih dicuciin baju dan celananya. Si Mami sih, kok polos banget. Jadi keliatan kan kalo gue anak manja. Ugh, malu deh!

Tapi seru sih, kalo tiap nonton lomba Panjat Pinang. Selalu ada aja insiden yang terjadi tiap 17 Agustus. Dari mulai yang bikin malu sampe bikin keki. Padahal kalo dipikir-pikir ngapain capek-capek demi hadiah yang enggak seberapa. Yang ada malah pegel, pundak diinjek-injek, badan, kepala dan muka kotor, belepotan. Kadang ada juga yang sampai patah tulang. Pas giliran seseorang yang berhasil naik ke puncak dan ngambil semua hadiahnya,eh mesti dibagi-bagi rata sama semua peserta.

Dan gue dapet filosopfinya ni. Mungkin si empunya ide pertama yang bikin ide lomba panjat pinang ini pengen menyampaikan pesan bahwa dulu para pejuang Bangsa kita itu rela mengorbankan tubuh dan jiwa mereka hanya demi mengibarkan bendera merah putih. Dan itu untuk kepentingan bersama. Untuk Negeri dan bangsa ini. Bukan hanya untuk dia seorang yang telah berhasil berperang dengan selamat. Tapi juga untuk yang telah gugur di medan pertempuran, untuk yang sekedar memberi semangat ataupun yang berjuang dengan cara selain berperang. Bahkan untuk mereka yang sekalipun tidak ikut ambil bagian dari perjuangn, yang sekedar peduli atau yang hanya berdiam diri. Itu semua hanya demi Negeri Indonesia Raya ini, demi Bendera Merah Putih!

« Previous PageNext Page »